Lelaki muda terhentak ketika menyadari Helm batok mungilnya sudah tiada. Kenapa gerangan helm itu pergi? Apakah dia sudah bosan dengan dirinya? padahal Helm tersebut sengaja dia peruntukan untuk seseorang yang akan mendampingi hidupnya kelak, kalau Tuhan mengijinkan.
“Aku harus menemukannya kembali! ” Gumamnya dalam hati.
Sejurus kemudian dia berbalik arah untuk kembali menyusuri jalanan yang telah dia lewati. Petak demi petak tanah dia lewati. Meter demi meter jalanan dia lalui. Perlahan dia susuri apa yang telah dia lewati dengan menggunakan motor kesayangannya. Matanya menelikung berpendar kesemua arah. Tiap inci tanah dan jalanan tak luput dia teliti. Namun tak kunjung dia temui Helm batok mungil kesayangannya. Peluh bercucuran di wajahnya. Panas terik tak menghalanginya. Dengan tekad baja rintangan apapun akan dihadapinya.
Sampai akhirnya dari kejauhan dia melihat sesosok wanita berkerudung hijau sedang berjalan menyusuri jalanan. Samar-samar terlihatnya. Semakin
dekat semakin tampak dia terlihat. “Aduhaiii cantiknya ” katanya dalam hati.
“Tapi .. jagalah hati .. jangan kau kotori” dia menukas kembali dalam hatinya sembari teringat lagu dari Aa Gym.
Dan akhirnya motornya semakin mendekati wanita itu.
“Lho … bukankah itu helm-ku? Tapi kenapa ada di kepalanya?” Dia melihat helm kesayangannya dipakai wanita manis berkerudung hijau, tapi tak yakin kalau itu helmnya.
Motornya tetap melaju pelan dan akhirnya berpasan untuk bergerak menjauhi wanita itu. “Helm-ku bukan, Helm-ku bukan?” tanya dia dalam hati.
“Ahhh … kenapa tidak aku tanya saja pada wanita itu!” Tegas dia dalam hati.
Akhirnya lelaki itu pun berbalik arah dan bergerak memacu motornya mendekati wanita itu.
“Assalamualaikum ” Ujarnya pada wanita itu.
Wanita berkerudung hijau tersentak kaget dan sejenak kemudian menukas “Waalaikum salam” tukas wanita itu.
“Maaf Teh, kalau saya tidak salah helm yang Teteh pakai itu adalah helm saya. Teteh menemukannya di mana?”
“Ohh … ehh … maaf, bagaimana anda bisa yakin kalau ini adalah helm anda” wanita itu agak kikuk sambil melepas helm dari kepalanya.
“Soalnya helm saya jatuh di jalan, dan helm yang Teteh pakai mirip sekali dengan helm saya. Coba deh dilihat di bagian dalam helm itu, saya sengaja menuliskan puisi di dalamnya.
Sejenak wanita itu melihat bagian dalam helm batok mungil, dan terukir tulisan indah disana. “Lho ini khan puisi Sapardi Djoko Darmono” Gumam wanita itu dalam hati.
“Maaf, kalau boleh, Anda ucapkan puisi yang anda maksud. Supaya saya yakin kalau ini adalah helm anda”
Dengan lembut dan mantap, sang lelaki itupun berucap
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
”
Selesai membacakan puisi itu, sang lelaki kemudian menukas “Teteh sudah yakin kalau itu adalah helm saya? Maaf apabila puisi yang baru saya bacakan tersebut mengganggu perasaan Teteh”
Wanita berkerudung hijau agak tersipu malu. Dia tetap berusaha bersikap biasa. Namun tak urung rona merah di wajahnya terlihat jelas bak rembulan menerangi malam. Dengan tetap menundukkan pandangan, dia berkata ” Maaf, bukan saya berniat jelek dengan helm ini. Tapi saya tidak mau helm ini jatuh pada orang yang tidak berhak. Apalagi saya lihat helm ini terawat dengan baik dan masih mulus. Sekarang saya yakin kalau helm ini adalah milik Anda. Tadi saya menemukannya teronggok di jalanan. Daripada nanti terlindas oleh kendaraan lain, maka saya ambil untuk dicoba dikembalikan pada pemliknya.”
“Terima kasih banyak teteh telah berbaik hati menyelamatkan helm saya”
Maka berpindah tanganlah helm batok mungil itu kepada pemiliknya.
“Oh ya teteh pulangnya kemana? Boleh saya antar ? sebagai ucapan terima kasih saya” ucap sang lelaki.
“Oo .. tidak usah repot-repot. Rumah saya sudah dekat kok. Dan kaki saya masih kuat untuk berjalan sampai ke rumah” wanita itu menimpali.
“Iya deh .. sekali lagi terima kasih Teh. Kalau begitu saya duluan”
“Silahkan”
Dan kedua insan manusia itu pun berpisah … entah apa yang berkecamuk di hati keduanya.
(bersambung)
Greng … greng … motorpun melaju meninggalkan taman kota yang asri. Pepohonan berebut menenggak asap dari knalpot motor itu. Pria muda dengan Helm dikepala memandang lurus kedepan, tatapannya mantap. Helm batok mungil tersanding rapi di jok belakangnya.
Ribuan sentimeter aspal jalanan dilindas roda motornya. 2 belokan, kiri dan kanan dilahapnya. Mata pria itu berpendar menatap pemandangan yang dilaluinya. Sejenak dia menatap anak-anak kecil bermain layangan di pinggir jalan. Sejenak yang lain dia memeramkan mata ketika tak sengaja melihat wanita muda dengan pakaian menempel ketat ditubuhnya.
Jalanpun berganti, aspal hitam mulus berubah menjadi jalan penuh kubangan dan bebatuan. Motornya melaju bergoyang-goyang. Dengan lincah pria muda itu memainkan stang motornya, meliuk-liuk bak penari jaipongan dengan ditingkahi sepoian angin. Helm batok mungil di jok belakang pun ikut terguncang hebat. Sekuat tenaga helm batok mungil itu berpegangan erat ke jok belakang agar tidak terhempas ke tanah. Namun goyangan dan liukan motor yang senantiasa berusaha menghindari kubangan jalan membuat Helm batok mungil hilang keseimbangan. Dan … pluk… Helm Batok mungil itu bergelinding menciumi tanah dan jalanan penuh bebatuan dengan mesranya. Si pria muda dengan mantap terus memacu motornya tanpa sadar bahwa Helm batok mungil sudah tidak ada di jok belakang motornya lagi. 1… 100… 200… 1000… meter, motor meninggalkan Helm batok mungil yang tertelungkup mendekap jalanan penuh kubangan.
Dari kejauhan tampak wanita berkerudung hijau muda sambil mendekap tas berjalan menyusuri jalanan. Wajahnya bak rembulan yang memancarkan sinar keteduhan. Semakin dekat, semakin terlihat manis wajahnya. Kerudungnya berkibar-kibar tersibak sepoaian angin. Sampai akhirnya kaki wanita terantuk sebuah benda. Bergelinding benda itu tersepak kaki sang wanita.
Sejenak wanita itu berhenti dan kemudian menatap benda yang membuat kakinya terantuk. Semakin didekati, semakin dia tahu bahwa benda itu adalah Helm batok mungil. “Ihhh helmnya lucu … Kok tega helm ini dibiarkan teronggok di jalanan. Milik siapa ya helm ini?” wanita itu bergumam sendiri dalam hatinya.
“Wahai helm … siapakah pemilikmu? beritahulah aku agar aku bisa mengembalikan pada pemilikmu” Dia melanjutkan gumamnya.
Sambil memegangi helm batok mungil itu, matanya berpendar ke segala arah, mencari sesosok pemilik helm. Tak tampak orang di sekelilingnya.
Udara siang itu bertambah panas, terik mataharipun semakin menyengat. Peluh bercucuran dari wajah si wanita tersebut. Dan diapun memakaikan sementara helm batok mungil tersebut ke kepalanya sambil menunggu sang pemilik helm mengambilnya. Sejuk … ademm … dia rasakan setelah helm mungil menelungkupi kepalanya..
(bersambung)
“A, ini ada surat dari saya, tapi jangan dibuka, nanti saja dibacanya setelah Aa tiba di Bandung.”
Demikian ucapan yang diucapkan teman saya, mengutip ucapan istrinya yang saat ini sedang ada di Tangerang di rumah orang tuanya, mengawali perbincangannya dengan saya beberapa hari yang lalu, ketika kami bertemu di acara kajian rutin pekanan.
Maka setelah di Bandung, dibacalah surat tersebut yang merupakan surat dari istrinya yang sedang menunggu saat-saat kelahiran anak pertama mereka.
“A, bila Allah menakdirkan saya meninggal pada saat melahirkan nanti, saya rela meninggalkan dunia ini asal anak kita selamat. A, bila saya meninggal nanti, titip anak kita, jaga dia dengan baik,” demikian salah satu isi surat dari istrinya itu.
Maka menangislah si Aa tadi setelah membaca surat dari istrinya. Air mata seorang lelaki, air mata seorang suami, air mata seorang calon bapak yang sedang menunggu dengan harap-harap cemas akan kelahiran anak pertamanya, akan keselamatan istri tercintanya yang baru satu tahun dia nikahi. Karena dia tahu bahwa proses kelahiran anak pertama adalah sangat beresiko, bahkan setiap proses melahirkan anak, nyawa ibu dan bayi adalah taruhannya
Demikian sekelumit cerita dari teman saya, ketika akhirnya dia bercerita tentang kondisi terakhir dirinya. Sangat terharu saya mendengar ceritanya. Saya bisa membayangkan bagaimana kalau saya menjadi dia, walaupun saya belum pernah menikah.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya, “Akhi… sekarang saya sedang berusaha mencari tambahan uang, untuk biaya persalinan istri saya nanti. Sekarang saya beralih sementara berjualan kantong kresek, mengedarkan ke toko-toko kecil. Alhamdulillah kelihatannya cukup prospektif, walaupun belum laku banyak,” ungkapnya.
“Mmm…,” guman saya dalam hati.
Yang saya tahu bahwa dia berprofesi sebagai pedagang keliling, berjualan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu emperan jalan ke emperan jalan lainnya, dari satu emperan masjid ke emperan masjid lainnya, dengan menghamparkan tikar dan kemudian menggelar barang dagangannya.
Dia cukup senang ketika kami memanggilnya dengan sebutan “Mujahid Ngampar”.
Pahamlah saya kemudian bahwa dia sedang kesulitan mencari bekal buat persalinan istrinya yang tinggal dalam hitungan hari. Pahamlah saya kemudian ketika beberapa waktu yang lalu dia menawar-nawarkan VCD Player bututnya pada kami. Pahamlah kemudian saya ketika dia menawar-nawarkan topi rimba-nya, yang kemudian saya beli dengan harga 5.000 perak. Pahamlah kemudian saya bahwa itu semua dilakukannya untuk mengumpulkan bekal buat persalinan istrinya, di samping tentunya untuk menyambung hidupnya sekeluarga, walaupun untuk makan ala kadarnya.
“Ya Allah, sungguh Engkau telah memberikan pelajaran berharga bagi saya lewat cerita teman saya ini.”
Terkadang saya merasa paling menderita ketika tidak makan 3 kali sehari, padahal baginya makan roti seharga 500 perak sehari sekali adalah hal yang lumrah . Terkadang saya merasa susah hati ketika tidur bantalnya sedikit tidak empuk, padahal dia tidur di mesjid beralaskan lantai yang dingin sangatlah sering.
Kadang saya merasa bangga sudah berdakwah dengan mengirimkan SMS berisi penggalan Hadist atau kutipan ayat al-Qur’an, yang belum tentu sudah saya amalkan. Padahal dia, kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk berdakwah secara real di masyarakat, bahkan cukup banyak dia memiliki binaan dakwah, padalah usianya masih cukup muda, 23 tahun.
Kadang saya… ahhhh… malu rasanya untuk mengungkapkan semuanya.
Ya Allah… Saya takut kenikmatan yang Engkau berikan saat ini adalah untuk membalas sedikit amal yang pernah saya lakukan, dan di kemudian hari ketika nyawa ini dicabut, sudah impas, tidak memiliki amal kebaikan, hanya setumpuk dosa yang saya bawa sebagai beban di kemudian hari nanti.
Astagfirullah… Ya Allah, ampunillah dosaku.
Sangat mungkin kondisi teman saya tadi adalah cara Allah untuk menghapus dosanya, sehingga kemudian ketika dia meninggal nanti, dia sudah tidak punya dosa lagi, hanya tumpukkan amal kebaikan yang dia bawa nanti. Allahu a’lam
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al Baqarah-286) (ish)
~ IdE ~
(tulisan ini pernah dimuat di rubrik oase iman eramuslim.com dan dimuat juga dalam buku Oase Jiwa – Truly, Deeply, Sincerely, terbitan eramuslim)
Seorang lelaki muda tengah termenung di keramain sebuah taman
kota disenandungi gemericit suara burung pipit, sambil memandangi
motor hasil kreditannya dan daun daun yang tercecer ditaman kota tsb.
Sejenak dia memejamkan mata, sambil menghirup udara kota yang
masih segar di taman itu, merasakan sepoi angin yang mengelus- elus pipinya dan menikmati sapaan alam yang diberikan gratis oleh Tuhannya.
“Subhanallah …”, ujarnya.
Sambil membuka mata, dia mengelus-ngelus helm satunya lagi.
Sebuah helm yang dia pilihkan secara khusus untuk calon pendamping hidupnya kelak, yang akan menemani perjalanan dia menaiki motornya yang dia juluki si “jalu”, menemani duduk di jok belakang , menemani bersenandung nasyid kesukaannya, menemani melantunkan matsurat dan tentunya menemani kehidupannya dalam naungan sebuah rumah tangga yang sakinah.
Sebuah helm batok mungil yang lucu, dengan bantalan halus didalamnya yang insya Allah akan melindungi isi kepala calon pemilik helm tsb kelak dari berbagai benturan kehidupan dalam perjalanan menaiki motor bersamanya.
Mmm… siapakah gerangan wanita yang akan mendapat kehormatan
mendapatkan mahkota berupa helm batok mungil tersebut ?
“Mmm siapa ya ?”, guman si lelaki tadi dalam hati.
Maka suatu hari nanti bila si helm mungil sudah menemukan
pemiliknya, akan dibacakan sebuah puisi Sapardi djoko
damono padanya.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan,
kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang membuatnya tiada…
“
“Wanita mana yang tidak akan tersanjung mendengarnya, wanita mana
yang tidak akan memerah pipinya, wanita mana yang tidak akan
melambung hidungnya, bila sang suami pujaan hati membacakan puisi
tersebut padanya. ceillehhhh… “, demikian pikir si lelaki tadi dalam hati.
Rintik hujan tak terasa membasuh tubuhnya, matahari pun sudah kembali ke peraduannya.
“It’s time to go now. Selamat tinggal wahai tamanku … akan aku kunjungi kau dilain waktu dan janganlah bosan kau menemaniku “
Greng … greng … dan sebuah motor melaju meninggalkan taman itu sambil menitipkan sedikit kepulan asap sebagai tanda mata dari si pemilik motor .
(bersambung)
ketika hujan turun
kubuang gundah gulana
kutitipkan asa pada air yang tercurah
kusimpan duka pada awan yang menggumpal
kupendam luka pada riaknya telaga
lalu kulantunkan sebuah pinta,
sambil mendongak mencari cinta
lamat lamat kutatap anak kecil bertelanjang dada
bermain bola bertukar canda
dalam guntur yang tak kunjung reda
dibawah hari yang akan gulita
renyah sekali tawa mereka
seakan tak punya luka dan duka,
dan dunia hanyalah milik mereka .
Tuhan …
kudapat cinta dari mereka !
~IdE~
Memiliki sebuah blog sepertinya menjadi suatu keharusan saat ini.
Blog atau WeBlog, sejatinya adalah sebuah websites biasa. Tapi beda dengan website biasa, sebuah Blog bersifat lebih pribadi. Lebih mencerminkan siapa itu pemilik Blog.
Banyak orang menyebutnya sebagai Diary atau Jurnal Online. Dulu memiliki sebuah websites, hanya monopoli kalangan tertentu saja, yaitu orang yang melek IT. Tapi sekarang sudah berubah, berbagai penyedia layanan gratis, menyediakan akses untuk membuat Blog dengan mudah, bahkan kurang dari 10 menit, orang awampun sepertinya dengan mudah bisa membuat Blog.
Wordpress, Blogspot, Blogdrive, Multiply dll, adalah beberapa diantara penyedia layanan gratis itu.
Jadi tunggu apa lagi, ciptakan Blog Anda sekarang juga, express yourself with a Blog.